Forum TBM Dorong Gerakan Literasi Beralih dari Event ke Program Berkelanjutan
- account_circle Muh
- calendar_month 8 jam yang lalu
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Diskusi virtual penggiat literasi se-indonesia
Jakarta — Gerakan literasi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) didorong untuk tidak berhenti pada kegiatan atau event sesaat. TBM perlu mulai mengembangkan program yang dilakukan secara rutin, tematik, dan berkelanjutan sesuai kebutuhan anak serta persoalan yang dihadapi masyarakat di masing-masing daerah.
Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi “Membaca PISA, Membaca Indonesia: Apa yang Harus Dilakukan TBM setelah PISA 2025?” yang diselenggarakan Forum TBM, Sabtu (19/9/2026). Diskusi menghadirkan Anggi Afriansyah, S.Pd., M.Si. dari PP Forum TBM, Helmi Hi. Yusuf, M.P.A. dari PW Forum TBM Maluku Utara, dan Syaeful Cahyadi, S.S. dari Dewan Pendidikan Sleman. Diskusi dipandu Dr. Sry Eka Handayani dari Forum TBM Agam.
Diskusi tersebut menempatkan hasil PISA 2025 sebagai bahan refleksi bagi pegiat TBM. PISA tidak dipandang sebagai ukuran tunggal keberhasilan TBM, terlebih TBM bukan sekolah dan tidak perlu mengubah dirinya menjadi tempat latihan soal PISA.
Sebaliknya, hasil PISA dapat menjadi pintu masuk untuk melihat kembali persoalan kemampuan anak dalam membaca, memahami informasi, bernalar, berpikir kritis, dan belajar secara mandiri. Kemampuan membaca juga tidak cukup dilihat dari kemampuan teknis membaca, tetapi mencakup kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi.
Berangkat dari Persoalan di Sekitar
Salah satu penekanan dalam diskusi adalah pentingnya TBM membaca kebutuhan yang paling dekat dengan masyarakat. Setiap TBM memiliki karakter, sumber daya, lingkungan sosial, serta persoalan yang berbeda sehingga bentuk programnya tidak harus seragam.
Kegiatan literasi dapat dikembangkan dari kebutuhan tersebut, mulai dari ruang berkumpul yang positif, kelas bahasa, kegiatan budaya dan sastra, hingga pendampingan belajar. TBM juga dapat mempertemukan anak dengan relawan, komunitas, maupun jejaring lain yang dapat mendukung minat dan perkembangan mereka.
Dengan pendekatan ini, kegiatan literasi tidak berhenti pada pelaksanaan acara. TBM didorong memiliki setidaknya satu program yang dapat dilakukan secara konsisten dan dikembangkan berdasarkan pengalaman di lapangan.
“Program yang berkelanjutan” dalam konteks ini tidak selalu berarti kegiatan yang besar. Program dapat disisipkan ke dalam aktivitas yang sudah berjalan di TBM. Anggi Afriansyah menekankan pentingnya refleksi terhadap kekuatan dan keterbatasan TBM, pemanfaatan kerelawanan, jaringan sosial, serta pengembangan kegiatan rutin.
Membaca Tidak Berhenti pada Buku
Penguatan praktik membaca juga menjadi bagian penting dalam diskusi. TBM didorong menyediakan bahan bacaan yang lebih beragam, tidak hanya buku fiksi, tetapi juga nonfiksi, infografis, data, artikel, dan berbagai sumber informasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bahan-bahan tersebut dapat digunakan untuk mengajak anak tidak sekadar membaca, tetapi juga bertanya, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan merefleksikan apa yang mereka baca. Dengan cara itu, aktivitas membaca dapat berkembang menjadi pengalaman belajar yang melatih pemahaman dan penalaran.
Tantangan tersebut semakin relevan ketika anak berhadapan dengan arus informasi digital. Dalam diskusi, pengaruh teknologi dan penggunaan AI disebut sebagai salah satu tantangan dalam membangun daya baca sekaligus kemampuan anak membedakan informasi yang tepat dan keliru. Kepercayaan diri anak untuk bertanya, berbicara, dan menyampaikan pendapat juga dinilai penting untuk dibangun melalui aktivitas di TBM.
Syaeful Cahyadi mengingatkan agar karakter TBM sebagai ruang pendidikan nonformal dan informal tetap dipertahankan. TBM tidak perlu berubah menjadi ruang yang semata-mata berorientasi pada latihan literasi dan numerasi berbasis tes. Sebaliknya, TBM perlu tetap menjadi ruang yang menyenangkan sekaligus mampu menjawab persoalan lokal melalui kegiatan tematik yang berkelanjutan.
Mencatat Perubahan, Bukan Sekadar Melaksanakan Kegiatan
Selain keberlanjutan program, diskusi juga menyoroti pentingnya dokumentasi. TBM didorong mulai membuat catatan sederhana setelah kegiatan untuk merekam pengalaman dan perubahan yang terlihat pada anak.
Dokumentasi tersebut tidak harus selalu berupa data statistik. Catatan mengenai perkembangan, pengalaman, respons, maupun perubahan perilaku anak dapat menjadi data kualitatif yang membantu TBM melihat dampak kegiatannya sekaligus menjadi bahan pembelajaran bagi pengelola dan komunitas yang lain.
Helmi Hi. Yusuf juga menekankan pentingnya dokumentasi kegiatan dan data kualitatif agar praktik baik yang tumbuh di TBM dapat dipelajari dan dikembangkan. Pada saat yang sama, TBM perlu membaca perubahan lingkungan dan melibatkan orang tua serta menggali kearifan lokal sebagai modal sosial untuk mendukung semangat belajar anak.
Pada akhirnya, diskusi menyepakati bahwa kontribusi TBM terhadap peningkatan kualitas literasi tidak harus diwujudkan dengan menjadikan TBM sebagai tempat latihan soal PISA. Peran yang lebih luas adalah menghadirkan ruang dan pengalaman yang membantu anak menjadi pembaca yang lebih baik, mampu memahami serta mengevaluasi informasi, berpikir kritis, belajar secara mandiri, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
Sebagai tindak lanjut, TBM didorong melakukan refleksi terhadap kekuatan, kebutuhan, dan persoalan lokal yang dihadapi anak dan masyarakat. Dari refleksi itu, setiap TBM diharapkan dapat mengembangkan sedikitnya satu program literasi berkelanjutan, memperkaya bahan bacaan, membangun aktivitas membaca yang disertai diskusi dan refleksi, melibatkan orang tua, serta mendokumentasikan perubahan yang terjadi.
Dengan demikian, membaca hasil PISA tidak berhenti pada pembicaraan tentang angka dan capaian. Bagi TBM, hasil tersebut menjadi bahan untuk melihat kembali apa yang bisa dilakukan dari ruang masing-masing—kemudian mengubah kegiatan literasi dari sekadar agenda sesaat menjadi praktik yang hadir secara konsisten dalam kehidupan masyarakat.
- Penulis: Muh
- Editor: Muh


