Dari Sampah Jadi Manfaat, Pemdes Lambangsari Dorong Warga Kelola Lingkungan dari Rumah
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BEKASI, BEKASIVOICE.com – Upaya membangun lingkungan yang bersih dan berkelanjutan terus dilakukan Pemerintah Desa Lambangsari. Salah satunya dengan mendorong masyarakat mengelola sampah sejak dari sumbernya melalui berbagai inovasi lingkungan berbasis warga.
Komitmen tersebut terlihat saat Pemerintah Desa Lambangsari melakukan monitoring kegiatan pengelolaan lingkungan di Cluster Summer Festival Grandwisata, RW 20, Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Sabtu (29/8/2026).
Dalam kunjungan tersebut, pemerintah desa melihat langsung sejumlah inovasi yang dikembangkan masyarakat. Mulai dari bank sampah, budidaya maggot, pembuatan eco enzyme hingga pembuatan lubang resapan biopori.
Kepala Desa Lambangsari, Pipit Haryanti, mengapresiasi konsistensi warga RW 20 dalam mengembangkan berbagai kegiatan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan.
Menurut Pipit, persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah. Perubahan kebiasaan masyarakat menjadi faktor penting, terutama dalam mengurangi dan memilah sampah sejak dari rumah.
“Pemerintah desa akan terus mendorong dan mendukung berbagai kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Apa yang dilakukan warga RW 20 ini sangat positif karena bukan hanya menjaga kebersihan, tetapi juga bagaimana sampah bisa dikelola dan memberikan manfaat,” ujar Pipit.
Ia menilai keberadaan bank sampah dapat menjadi salah satu solusi dalam mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipilah dan dikumpulkan untuk kemudian dimanfaatkan kembali.
Menurut Pipit, pola tersebut secara perlahan dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat memiliki nilai apabila dipilah dan dikelola secara tepat.
Tak hanya bank sampah, Pipit juga mengapresiasi budidaya maggot yang dilakukan warga. Pengolahan sampah organik melalui maggot dinilai memberikan manfaat ganda karena mampu mengurangi sisa makanan sekaligus menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan maupun ternak.
“Ini merupakan inovasi yang sangat baik. Sampah organik bisa dimanfaatkan untuk budidaya maggot sehingga jumlah sampah yang dibuang bisa dikurangi. Di sisi lain, hasilnya juga bisa dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai ekonomi,” katanya.
Pemerintah Desa Lambangsari juga meninjau pembuatan eco enzyme yang memanfaatkan limbah organik rumah tangga, seperti kulit buah dan sisa sayuran.
Pemanfaatan limbah dapur tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi sampah organik dari sumbernya. Selain mengurangi volume sampah, pengolahan tersebut juga dapat memberikan manfaat lain bagi kebutuhan rumah tangga dan lingkungan.
Sementara itu, penggiat lingkungan sekaligus warga setempat, Lastri, mengatakan keberadaan bank sampah telah memberikan manfaat bagi masyarakat. Warga, kata dia, mulai terbiasa memilah sampah sebelum dibuang.
“Manfaatnya sangat banyak. Warga jadi belajar memilah sampah, mana yang organik dan anorganik. Sampah yang masih memiliki nilai bisa dikumpulkan melalui bank sampah, sementara sampah organik dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain seperti maggot dan eco enzyme,” ujar Lastri.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan lingkungan sangat bergantung pada konsistensi dan keterlibatan masyarakat. Karena itu, edukasi harus terus dilakukan agar kebiasaan memilah dan mengolah sampah dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Lastri juga mengungkapkan, budidaya maggot yang dilakukan warga mulai menunjukkan hasil. Dalam waktu sekitar satu bulan, warga telah melakukan dua kali panen dan hasilnya memiliki nilai ekonomi.
“Untuk maggot, dalam waktu sekitar satu bulan lebih kami sudah dua kali panen. Hasilnya juga memiliki nilai ekonomis yang cukup lumayan,” sambungnya.
Selain pengelolaan sampah, warga RW 20 juga membuat lubang resapan biopori. Fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan daya resap air ke dalam tanah sekaligus menjadi media penguraian bahan organik.
Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara terpadu. Sampah dipilah sejak dari rumah, sampah anorganik disalurkan melalui bank sampah, sampah organik dimanfaatkan untuk budidaya maggot dan eco enzyme, sementara biopori digunakan untuk mendukung resapan air.
Pemerintah Desa Lambangsari berharap praktik pengelolaan lingkungan di RW 20 dapat menjadi contoh bagi wilayah lain. Semakin banyak warga yang terlibat, semakin besar pula dampaknya terhadap kebersihan dan keberlanjutan lingkungan desa.
Melalui kolaborasi pemerintah dan masyarakat, persoalan sampah diharapkan tidak lagi hanya ditangani ketika sudah menjadi masalah. Sebaliknya, pengelolaan dimulai dari sumbernya dengan mengubah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai. (Ccp)
- Penulis: Redaksi


