Kolaborasi DPPPA Bekasi Dorong Keluarga Jadi Benteng Perlindungan Anak
- account_circle Taufik Rahman
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Foto Bersama
Kabupaten Bekasi – Perlindungan anak tidak cukup hanya dibicarakan ketika sebuah kasus kekerasan terjadi. Ia perlu dimulai dari rumah, dari cara orang tua berkomunikasi, mendampingi anak menggunakan internet, hingga memahami perubahan perilaku yang mungkin menjadi tanda anak sedang menghadapi persoalan.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Advokasi dan Sosialisasi Peningkatan Kualitas Keluarga Tahun 2026 yang digelar pada hari Rabu 19 Agustus 2026 di Aula Kelurahan Sertajaya, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kabupaten Bekasi dengan melibatkan sejumlah lembaga dan komunitas, di antaranya Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kabupaten Bekasi, Yayasan Rangkul Keluarga Kita Berdaya (Keluarga Kita), serta YR KOBRA Bekasi.
Kegiatan tersebut dihadiri kader Posyandu, PKK, serta para ibu dan unsur masyarakat Kelurahan Sertajaya. Berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan keluarga dibahas, mulai dari kekerasan terhadap anak, pengelolaan emosi orang tua, pendampingan anak di ruang digital, hingga bahaya penyalahgunaan NAPZA.
Dalam sambutannya, Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bekasi, Bapak Akam Muharam, S.STP., M.M., menekankan bahwa keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, tetapi memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kualitas generasi dan masa depan bangsa.
Menurut Akam, keluarga saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari persoalan ekonomi, perkembangan teknologi digital, kesehatan, penyalahgunaan NAPZA, hingga kerentanan terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Karena itu, peningkatan kualitas keluarga tidak lagi sekadar menjadi program pemerintah, melainkan kebutuhan bersama dan investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang tangguh, sehat, dan berakhlak.
Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas lembaga. Pemerintah, menurutnya, tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi berbagai persoalan keluarga.
“Kita perlu saling berbagi data dan informasi, menyatukan program agar tidak tumpang tindih, serta saling melengkapi kekurangan dengan kelebihan lembaga lain,” ujar Akam dalam sambutannya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai forum sosialisasi, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat advokasi, membangun kesamaan persepsi, serta mendorong program yang lebih tepat sasaran dalam perlindungan dan pemberdayaan keluarga.
Pak Akam juga mengajak seluruh peserta untuk tidak hanya menyerap informasi dari para narasumber, tetapi turut menjadi agen perubahan dengan meneruskan pengetahuan positif kepada keluarga dan lingkungan masing-masing.
Pesan tersebut menjadi penting karena persoalan keluarga tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi. Dibutuhkan keterlibatan pemerintah, lembaga masyarakat, sekolah, komunitas, media, serta kesadaran setiap keluarga untuk bergerak bersama.
Ibu Mega Anissa
Materi pertama disampaikan Ibu Mega Anissa dari Yayasan Rangkul Keluarga Kita Berdaya. Ia mengajak peserta melihat kembali persoalan kekerasan terhadap anak dari lingkungan terdekat, terutama keluarga. Sebab, tidak semua bentuk kekerasan selalu terlihat dalam bentuk luka fisik.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua terkadang tidak menyadari bahwa cara berbicara, membentak, mempermalukan, mengancam, atau memberikan perlakuan tertentu kepada anak dapat meninggalkan dampak terhadap perkembangan psikologis mereka.
Karena itu, kemampuan orang tua dalam mengelola emosi menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan keluarga yang aman bagi anak.
Pesan tersebut menjadi relevan karena keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar mengenal kasih sayang, komunikasi, batasan, sekaligus cara menyelesaikan masalah.
Ibu Mega Anissa menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi berbagai lembaga dalam kegiatan tersebut. Menurut dia, keterlibatan banyak pihak dalam upaya mencegah kekerasan terhadap anak merupakan langkah penting agar edukasi mengenai perlindungan anak tidak berhenti pada satu kegiatan saja.
“Saya sangat berterima kasih karena banyak lembaga yang berkolaborasi dalam upaya memerangi kekerasan. Semoga kegiatan ini memberikan manfaat bagi para ibu yang hadir,” ujar Bu Mega.
Ibu Aini Firdaus
Persoalan anak hari ini tidak hanya datang dari lingkungan fisik. Dunia digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak. Telepon pintar, media sosial, gim daring, video, hingga berbagai platform digital dapat menjadi sarana belajar dan berkembang. Namun, tanpa pendampingan yang memadai, internet juga membawa risiko.
Hal tersebut menjadi perhatian Ibu Aini Firdaus dari Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kabupaten Bekasi yang menyampaikan materi bertajuk “Dampingi Anak Aman Digital.”
Ibu Aini mengajak para peserta tidak memandang internet hanya sebagai sesuatu yang berbahaya.
Sebaliknya, internet perlu dipahami sebagai sebuah ruang yang memiliki manfaat sekaligus risiko. Persoalannya bukan semata-mata apakah anak boleh menggunakan internet, melainkan bagaimana anak menggunakan internet dan sejauh mana orang tua hadir untuk mendampinginya.
Dalam materinya, Bu Aini membahas kondisi anak Indonesia dan internet, termasuk berbagai risiko yang dapat muncul ketika anak menggunakan teknologi digital tanpa pendampingan.
Mulai dari paparan konten yang tidak sesuai usia, interaksi dengan orang yang tidak dikenal, perundungan di ruang digital, hingga penggunaan internet secara berlebihan menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan keluarga.
Karena itu, orang tua tidak cukup hanya mengatakan kepada anak, “Jangan main HP terus.”
Orang tua juga perlu memahami dunia digital yang digunakan anak
Pendampingan menjadi penting agar teknologi tidak hanya menjadi alat hiburan, tetapi dapat diarahkan sebagai sarana belajar, berkreasi, mencari informasi, dan membangun keterampilan.
Bapak Ratno
Materi berikutnya membawa peserta pada persoalan yang tidak kalah serius dengan materi “Penyalahgunaan NAPZA dan pemahaman dasar mengenai adiksi.”
Materi tersebut disampaikan Bapak Ratnoto dari YR KOBRA Bekasi.
Ia mengingatkan bahwa remaja merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap paparan penyalahgunaan NAPZA. Rasa ingin tahu, tekanan dari teman sebaya, lingkungan pergaulan, serta kurangnya pengawasan dapat menjadi faktor risiko.
Namun, menurut Pak Ratnoto, persoalan adiksi tidak semestinya dilihat hanya dari sudut pandang moral.
Ada pemahaman penting yang perlu dibangun bersama masyarakat bahwa adiksi merupakan penyakit yang membutuhkan penanganan dan dukungan, bukan semata-mata persoalan lemahnya iman atau kenakalan seseorang.
“Adiksi adalah penyakit. Bukan lemah iman, bukan nakal,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam materi tersebut.
Pak Ratno menjelaskan, penyalahgunaan NAPZA dapat membawa dampak serius terhadap kehidupan anak dan remaja.
Dampaknya dapat menyentuh berbagai aspek, mulai dari kemampuan belajar, kesehatan mental, hubungan keluarga, hingga masa depan pendidikan.
Karena itu, pencegahan tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah atau aparat penegak hukum.
Keluarga harus menjadi benteng pertama karena orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak, meluangkan waktu bersama, serta mengenali lingkungan pergaulan anak tanpa menjadikan pengawasan sebagai bentuk tekanan.
“Remaja saat ini adalah kelompok yang rentan terpapar NAPZA. Rasa ingin tahu, tekanan teman sebaya, dan kurangnya pengawasan dapat membuat mereka mudah terjerumus,” kata Pak Ratnoto.
Menurut dia, penanganan persoalan adiksi juga membutuhkan pendekatan medis, psikososial, dan dukungan lingkungan.
Karena itu, orang yang mengalami adiksi tidak semestinya langsung diberi stigma atau dikucilkan.
“Orang tua harus menjadi pendengar pertama, sekolah menjadi rumah kedua, dan komunitas menjadi tempat yang menguatkan,” ujarnya.
Jika dicermati, tiga materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut memiliki persoalan yang berbeda.
Kekerasan terhadap anak berbicara tentang keamanan dan pola pengasuhan. Literasi digital berbicara tentang bagaimana anak berhadapan dengan teknologi. Sementara edukasi NAPZA berbicara tentang risiko yang dapat mengancam kesehatan dan masa depan generasi muda.
Namun, ketiganya bertemu pada satu titik yang sama “ketahanan keluarga.”
Keluarga yang mampu berkomunikasi dengan baik akan lebih mudah mengenali perubahan perilaku anak.
Keluarga yang memahami dunia digital akan lebih mampu mendampingi anak ketika menggunakan internet.
Keluarga yang memiliki hubungan terbuka juga memiliki peluang lebih besar untuk menjadi tempat pertama bagi anak ketika menghadapi persoalan.
Inilah yang membuat kegiatan seperti sosialisasi peningkatan kualitas keluarga menjadi penting. Edukasi tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi diharapkan dapat diterjemahkan menjadi kebiasaan di dalam kehidupan sehari-hari.
Kolaborasi Jangan Berhenti di Ruang Sosialisasi
Ketua Forum TBM Kabupaten Bekasi, Aini Firdaus, mengapresiasi kolaborasi yang terbangun dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, keterlibatan berbagai lembaga menjadi modal penting untuk memperluas edukasi kepada masyarakat. Namun, ia menilai keberlanjutan program juga perlu menjadi perhatian.
“Kami dari Forum TBM Kabupaten Bekasi sangat berterima kasih dan mengapresiasi kegiatan ini. Harapannya, kegiatan seperti ini terus berlanjut dan selalu dievaluasi agar indikator keberhasilannya sebanding dengan dampak yang dirasakan masyarakat,” ujar Bu Aini.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan sebuah program tidak semata-mata diukur dari jumlah kegiatan yang terlaksana atau jumlah peserta yang hadir.
Lebih jauh, yang perlu dilihat adalah apa yang berubah setelah kegiatan berlangsung.
Apakah orang tua menjadi lebih terbuka berkomunikasi dengan anak?
Apakah mereka mulai memahami risiko dunia digital?
Apakah mereka mengetahui tanda-tanda yang perlu diperhatikan ketika anak menghadapi masalah?
Dan yang tidak kalah penting, apakah keluarga memiliki keberanian untuk mencari bantuan ketika menghadapi persoalan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena perlindungan anak bukan pekerjaan satu lembaga.
Ia membutuhkan sekolah, keluarga, pemerintah, komunitas, lingkungan masyarakat, dan berbagai pihak lainnya untuk bergerak dalam arah yang sama.
Pada akhirnya, pesan dari kegiatan di Sertajaya tersebut sederhana tetapi penting anak tidak hanya membutuhkan pengawasan, tetapi juga pendampingan.
Melarang anak menggunakan internet tanpa memberikan pemahaman tidak selalu menyelesaikan persoalan.
Memarahi anak ketika melakukan kesalahan juga belum tentu membuat mereka memahami konsekuensinya.
Begitu pula ketika seorang anak menghadapi persoalan adiksi, stigma dan penghakiman justru dapat membuat mereka semakin jauh dari bantuan.
Anak membutuhkan orang dewasa yang mau mendengarkan.
Mereka membutuhkan keluarga yang menjadi tempat pulang ketika menghadapi masalah.
Mereka membutuhkan sekolah yang mampu memberikan ruang aman.
Dan mereka membutuhkan lingkungan yang tidak hanya menilai, tetapi juga membantu.
Dari Aula Kelurahan Sertajaya, pesan itu kembali ditegaskan: membangun keluarga yang berkualitas bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, literat, dan penuh dukungan.
Sebab, menjaga masa depan anak pada dasarnya adalah menjaga masa depan masyarakat itu sendiri, upaya tersebut tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar dan semua itu bisa dimulai dari rumah dengan mendengar, memahami, mendampingi, dan hadir untuk anak.
- Penulis: Taufik Rahman
- Editor: Taufik Rahman

