Bekasi Jadi Lokasi Riset, BRIN Usung Hybrid Eco-Engineering untuk Selamatkan Pantura dari Abrasi dan Rob
- account_circle MM
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BEKASIVOICE.com, BEKASI — Wilayah pesisir Bekasi kembali menjadi sorotan nasional, kali ini bukan karena banjir semata, melainkan karena dipilih sebagai salah satu lokasi riset unggulan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam program perlindungan Pantai Utara Jawa (Pantura). BRIN mengusung pendekatan hybrid eco-engineering—sebuah metode yang memadukan rekayasa teknis dengan solusi berbasis alam—sebagai jawaban atas krisis pesisir yang kian mengkhawatirkan.
Data riset BRIN yang dipaparkan dalam forum Expose Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) bertajuk “Pantura Tangguh, Indonesia Lestari” mengungkap fakta mengejutkan: sebesar 65,8 persen garis Pantura Jawa dari Serang hingga Situbondo telah mengalami erosi masif. Sementara tingkat akresi atau penambahan daratan hanya tersisa 34,2 persen.
Di Bekasi sendiri, kondisinya sudah masuk tahap kritis. Di kawasan Muara Gembong, air laut tercatat telah merangsek masuk hingga empat kilometer ke daratan, menenggelamkan lebih dari 1.000 hektare tambak. Situasi serupa juga melanda Demak, di mana kawasan yang dulunya daratan kini terendam air sedalam lima hingga enam kilometer.
Lima Teknologi Unggulan BRIN
Kepala BRIN Arif Satria memaparkan lima teknologi unggulan yang disiapkan untuk melindungi kawasan Pantura. Pertama, tanggul tegak modular multifungsi dan blok modular beton yang dirancang bukan hanya sebagai pelindung pantai, melainkan juga mampu menangkap energi gelombang dan berfungsi sebagai jalur transportasi.
“Penguasaan teknologi oleh anak bangsa dapat menjadi kunci dalam menyelesaikan persoalan rob di Pantura sekaligus memperkuat kemandirian teknologi nasional,” kata Arif.
Kedua, unit lapis lindung breakwater dengan sistem saling mengunci otomatis yang lebih stabil dan ekonomis. Teknologi ini telah diterapkan di 11 daerah, terakhir dikembangkan di Nusa Penida pada 2025, setelah sebelumnya diuji coba di Pacitan, Sanur, Tuban, dan Nias.
Ketiga, platform arus laut yang memungkinkan tanggul dan dermaga berfungsi sekaligus sebagai pembangkit energi mandiri. Keempat dan kelima adalah pendekatan hybrid eco-engineering itu sendiri—kombinasi rekayasa teknis dan solusi berbasis alam yang dirancang untuk memperkuat perlindungan pesisir sekaligus memulihkan ekosistem yang telah rusak.
“Salah satu kelebihan dari teknologi ini adalah TKDN-nya lebih dari 70 persen,” tegas Arif, merujuk pada tingginya kandungan komponen dalam negeri dalam teknologi tersebut.
Master Plan Pantura Atas Arahan Prabowo
Di sisi kebijakan, Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto secara langsung meminta agar rencana induk (master plan) perlindungan Pantura segera disusun. Penyusunan dokumen strategis itu melibatkan lintas kementerian dan lembaga, universitas, serta tenaga ahli dari dalam dan luar negeri.
“Untuk teknologi kami dibantu oleh BRIN. Dengan teman-teman dari BRIN, sudah kita bicarakan lebih dari enam bulan, bagaimana teknologi yang digunakan. Ada yang digunakan dari Indonesia sendiri, dari dalam, maupun ada yang dari luar,” ujar Didit.
Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga menekankan urgensi penanganan Pantura secara terpadu. Kawasan ini menyumbang sekitar 27 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional, sekaligus menjadi tempat tinggal sekitar 55 juta jiwa yang tersebar di 20 kabupaten dan 5 kota.
“Mengingat terdapat sekitar 55 juta penduduk tinggal di 20 kabupaten dan lima kota di wilayah Pantura Jawa. Sementara itu, sekitar 26 persen masyarakat tinggal di kawasan pesisir. Oleh karena itu, ini adalah urgensi yang kami harapkan mendorong dan menggerakkan semua,” tutur AHY.
Bagi Bekasi, keterlibatan sebagai lokasi riset BRIN membuka harapan baru—tidak hanya untuk menyelamatkan kawasan pesisir yang terancam, tetapi juga untuk menjadi model penanganan rob dan abrasi yang bisa direplikasi di sepanjang Pantura.