
Bekasivoice.com | Kabar mengenai langkah Pemerintah Kabupaten Bekasi yang tengah menyiapkan skema reward atau penghargaan khusus bagi perusahaan yang aktif menyalurkan Corporate Social Responsibility (CSR) membawa angin segar sekaligus refleksi mendalam. Langkah Pemkab Bekasi dalam memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PT Sugity Creatives atas penyerahan 4.000 buku dan peluncuran program ‘Sahabatku’ di Gedung Graha Pariwisata adalah sebuah ketukan nurani yang nyata bagi dunia korporasi di daerah kita.
Sebagai bagian dari Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kabupaten Bekasi, kami melihat kontribusi PT Sugity Creatives bukan sekadar pemenuhan kewajiban regulasi di atas kertas. Gerakan membagikan ribuan buku dan fokus pada peningkatan literasi generasi muda adalah investasi kemanusiaan yang langsung menyentuh akar rumput. Di tengah tantangan rendahnya minat baca dan keterbatasan akses bahan bacaan bermutu di pelosok-pelosok desa di Bekasi, aksi nyata seperti yang dilakukan PT Sugity Creatives adalah oase yang sangat kami rindukan. Kolaborasi konsisten yang meluas hingga program lingkungan dan kemanusiaan ini layak dijadikan pilot project dan teladan bagi sektor swasta lainnya.
Namun, di balik selebrasi positif ini, tersimpan sebuah ironi yang sangat menyakitkan. Kabupaten Bekasi dikenal luas sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Asia Tenggara.
Ribuan pabrik berdiri kokoh, cerobong asap mengepul setiap hari, dan triliunan rupiah perputaran ekonomi terjadi di atas tanah Swatantra Wibhawa Mukti ini. Pertanyaannya: di mana kontribusi sosial dari ribuan perusahaan lainnya?
Sangat disayangkan, fakta di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas perusahaan di Kabupaten Bekasi seolah menutup mata dan telinga terhadap realitas sosial masyarakat sekitarnya. Masih banyak perusahaan yang menganggap CSR sebagai beban operasional, bukan tanggung jawab moral. Alokasi dana CSR mereka seringkali tidak transparan, bersifat musiman, atau hanya sekadar kosmetik untuk kepentingan pencitraan (greenwashing).
Lebih khusus di bidang pendidikan dan literasi, bantuan sangat jarang menyentuh TBM atau sudut-sudut baca masyarakat yang dikelola secara swadaya oleh warga.
Padahal, anak-anak yang tinggal di sekitar kawasan industri berhak mendapatkan akses pengetahuan yang layak agar mereka tidak sekadar menjadi penonton di tanah kelahiran mereka sendiri di masa depan. Berapa banyak perusahaan yang peduli untuk membangun ruang baca, mendonasikan buku berkualitas, atau membina kapasitas pemuda lokal secara berkelanjutan? Jawabannya bisa dihitung dengan jari. Banyak perusahaan yang meraup keuntungan besar dari Bekasi, namun menyalurkan CSR-nya ke daerah lain atau bahkan menyimpannya rapat-rapat.
Oleh karena itu, kami di Forum TBM Kabupaten Bekasi mendesak Pemkab Bekasi agar rencana pemberian Reward CSR tahunan tidak sekadar menjadi ajang seremonial bagi yang berprestasi.
Pemerintah daerah harus berani melangkah lebih jauh: terapkan instrumen pengawasan yang ketat dan berikan sanksi moral serta administratif (punishment) bagi perusahaan-perusahaan yang abai terhadap tanggung jawab sosialnya. Sinergi antara Bappeda, Dinas Pendidikan, dan komunitas lokal harus diperkuat agar penyaluran CSR tepat sasaran dan berkeadilan.
Kita berikan apresiasi kepada PT Sugity Creatives yang secara konsisten membuktikan kepeduliannya bagi masyarakat Bekasi. Namun, satu Sugity Creatives saja tidak akan cukup untuk mencerdaskan ratusan ribu anak di Kabupaten Bekasi.
Sudah saatnya ribuan perusahaan lain bangun dari tidur panjangnya, menanggalkan egoisme korporasi, dan mulai meniru jejak positif ini. Jangan hanya mengeruk keuntungan dari bumi Bekasi, tapi tinggalkan pula warisan kecerdasan bagi generasi masa depannya.
