BEKASIVOICE – Harga kedelai impor di Kota Bekasi mengalami lonjakan signifikan akibat penguatan dolar AS. Dampaknya, produsen tempe di Bekasi merasa terpukul karena margin keuntungan yang semakin menyusut.
‘Dengan harga kedelai impor yang naik, kami harus mengeluarkan biaya lebih untuk produksi tempe. Padahal harga jual tempe di pasar tetap, sehingga pendapatan kami menjadi berkurang,’ ujar Pak Jono, salah seorang produsen tempe di Bekasi.
Kenaikan harga kedelai ini dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Dolar yang kuat membuat biaya importasi menjadi lebih mahal, yang kemudian berdampak pada harga kedelai.
Menurut sejumlah sumber, fenomena ini bukanlah hal baru dan telah beberapa kali terjadi. Namun, tidak sedikit produsen tempe yang merasa terpukul dengan kenaikan harga kedelai impor ini. Mereka terpaksa menaikkan harga produksi, meskipun risiko pendapatan yang berkurang tidak bisa dihindari.
Melihat kondisi ini, diharapkan pemerintah dapat turun tangan untuk menstabilkan harga kedelai impor. Selain itu, produsen tempe juga perlu mencari alternatif lain untuk bahan baku produksi agar tidak terlalu bergantung pada kedelai impor.
