Jan 24, 2026 /

Mengenang Hasyim Achmad, Pejuang Bekasi yang Juga Pernah Menjadi Ketua DPRD Kabupaten Bekasi

Loading

BEKASIVOICE.COM | BEKASI — Bekasi merupakan Kota Patriot dimana banyak kisah heroik terjadi dalam setiap jengkal tanahnya, Berbatasan langsung dengan Jakarta, Banyak jejak sejarah dan perjuangan yang perlu digali kembali sebagai pengingat para pejuang yang telah mempertahankan segalanya demi kemerdekaan republik Indonesia.

salah satu pejuang itu diantaranya adalah Mohamad Hasyim Achmad. Dia merupakan seorang pejuang kemerdekaan Republik Indonesia dari Kabupaten Bekasi sebagaimana tercantum dalam Surat Keputusan Menteri Urusan Veteran No. 186/B/Kpts/MUV/1962 tanggal 31 Oktober 1962. SK tersebut ditandatangani oleh Menteri Urusan Veteran RI, Brigjen Sambas Atmadinata.

Penghargaan Hasyim Achmad

Ditempa di Barisan Pelopor dan Poetera

Hasyim, Pria kelahiran Cibitung, 19 April 1920 ini dalam riwayat perjuangan dimulai pada era pendudukan Jepang dengan bergabung sebagai Komandan Barisan Pelopor Cibitung, yang pimpinan pusatnya adalah dr. Muwardi. Barisan Pelopor ini merupakan sayap pemuda dari Jawa Hokokai yang diketuai oleh Ir. Sukarno. Di Barisan Pelopor, Hasyim Achmad belajar tentang kemiliteran, meski dengan peralatan sederhana seperti senapan kayu dan bambu runcing.

Presiden Sukarno saat berkunjung di Bekasi, turut didampingi Hasyim Achmad (sebelah kanan Sukarno) dan Sampurno Kolopaking (sebelah kiri Sukarno).

Ketika Sukarno, Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan Mas Mansoer membentuk Poetera (Poesat Tenaga Rakjat), Hasyim Achmad tidak ketinggalan ikut juga bergabung. Dia menjadi Ketua Poetera Cibitung. Periode 1945-1949 adalah masa-masa perjuangan gerilya dan pertempuran Hasyim Achmad. Ia memimpin pasukannya di berbagai daerah, mulai dari Bekasi, Tambun, Cikarang, Karawang, hingga Indramayu. Selain angkat senjata, beliau juga berperan di bidang sipil sebagai Ketua KNI Kecamatan Cibitung dari 1945-1950.

Peran Vital Dalam Proklamasi

Menjelang proklamasi, Hasyim Achmad mendapat perintah dari Barisan Pelopor pusat untuk membentuk pasukan, mengumpulkan senjata, dan mengerahkan massa untuk aksi di berbagai tempat untuk menuntut kemerdekaan. Hasyim Achmad kemudian menyusun barisan massa di desa-desa. Dia dan pasukannya lalu melakukan kekacauan keamanan dan penggembosan kekuasaan terhadap pendudukan Jepang di mana-mana. Tidak hanya terbatas di wilayah Cikarang saja, pergerakan provokasinya sampai juga ke Cileungsi, Karawang, hingga Indramayu.

Barisan Pelopor pusat kembali memerintahkan kepada Hasyim Achmad dan pasukan Barisan Pelopor lainnya untuk menurunkan semua bendera Jepang dan mengibarkan bendera Merah Putih di tiap tempat setelah Sukarno membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945.

Tidak hanya itu, Hasyim Achmad dan pasukannya yang dia pimpin melucuti senjata-senjata Jepang dan mengambil alih kekuasaan Jepang di sejumlah tempat seperti di Tambun, Cikarang, Cibarusah, Karawang, Rengasdengklok, Pedes, Cikampek, Jatisari, Pamanukan, Haurgeulis, dan Pagadenbaru dalam waktu seminggu.

Baca Juga  Terkait Dugaan Pelanggaran Kampanye Dani Ramdan Di Gereja HKBP Tambun Selatan, Ini Kata Ketua Bawaslu Kab. Bekasi

Waktu singkat itu bisa dilakukan, selain menggunakan kendaraan bermotor, juga karena Hasyim Achmad telah membangun basis massa di tiap-tiap tempat itu sebelumnya. Untuk mengabarkan berita proklamasi ke berbagai penjuru Indonesia, kelompok pemuda dari Asrama Menteng 31 yang membawa Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok itu membentuk Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang dipimpin oleh Wikana dan Chaerul Saleh sebagai sekretaris.

Tidak ketinggalan, Hasyim Achmad yang memiliki semangat nasionalisme yang tinggi itu pun ikut bergabung ke API. Sebagai orang yang pernah bergabung di Barisan Pelopor, Hasyim Achmad dan pasukannya termasuk yang mendapat tugas menjaga keamanan Bung Karno dan Bung Hatta di kediamannya masing-masing. Pada 19 September 1945, API mengadakan rapat raksasa di Lapangan Ikada yang bertujuan untuk mengabarkan proklamasi Republik Indonesia yang dilakukan oleh Sukarno. Hasyim Achmad lalu melakukan mobilisasi massa untuk menghadiri rapat tersebut.

Angkat Senjata dan Berpolitik

Sebagai bagian dari barisan para pemuda Menteng 31, dalam hal angkat senjata mempertahankan kemerdekaan, Hasyim Achmad bergabung dalam Biro Perjuangan. Biro Perjuangan merupakan kumpulan laskar di bawah naungan Kementerian Pertahanan. Guna menyatukan kekuatan bersenjata republik dalam melawan penjajah, Biro Perjuangan dan TRI disatukan dalam wadah baru oleh Sukarno pada Juni 1947 yang bernama Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hasyim Achmad melanjutkan jalan perjuangan melalui TNI hingga Belanda angkat kaki dari bumi pertiwi.

Atas bekal pelatihan semi militer dan keorganisasian di era pendudukan Jepang itu, Hasyim Achmad memimpin pasukannya dalam pertempuran gerilya melawan penjajah di berbagai daerah mulai dari Tambun, Cibitung, Cikarang, Cibarusah, Cileungsi, Jonggol, Rengasdengklok, Karawang, Cikampek, bahkan terus sampai ke Indramayu. Perjuangan Hasyim Achmad tidak hanya melalui angkat senjata, dia juga berjuang melalui jalur politik dan pemerintahan dengan menjadi Ketua KNI Kecamatan Cibitung pada tahun 1945-1950.

Membentuk dan Membangun Bekasi

Ketika perang selesai, Hasyim Achmad tidak melanjutkan ke karir militer, melainkan lanjut ke dunia politik dan pemerintahan serta dunia usaha. Di dunia politik dan pemerintahan, Hasyim Achmad merupakan salah satu pelopor yang mendorong terbentuknya Kabupaten Bekasi. Karir di politik dan pemerintahan ditempuh dengan menjadi anggota DPRD dan DPD Kabupaten Bekasi. Puncak karir politik dan pemerintahan terjadi di tahun 1960 dengan terpilih sebagai Ketua DPRD Kabupaten Bekasi.

Pada 8 April 1956, ketika Sukarno bersama sejumlah menteri dan Gubernur Jawa Barat berkunjung ke Kabupaten Bekasi, disambut oleh pimpinan daerah Kabupaten Bekasi seperti Sampurno Kolopaking (Ketua DPD/Bupati Bekasi), Ketua DPRD (Matnuin Hasibuan), da Anggota DPD/DPRD (Hasyim Achmad).

Baca Juga  Kemeriahan Penyambutan Bupati & Wakil Bupati Bekasi, Diarak Kereta Kencana Serta Disambut Kesenian Palang Pintu

Selain menjadi politisi, Hasyim Achmad juga dalam mengisi kemerdekaan dengan mendirikan sejumlah perusahaan dengan berbagai macam produk dan jasa. Sehingga, saat tidak lagi berkecimpung di pemerintahan, dia tetap menjalankan perusahaan miliknya dan aktif dalam sejumlah organisasi bisnis.

Dunia bisnis yang dikecimpungi ini merupakan dunia yang pernah dijalani sejak usia 18 (tahun 1938). Meski ada panggilan ibu pertiwi dalam mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah, Hasyim Achmad tetap menjalani dunia bisnisnya. Hal itu dilakukan guna membiayai dirinya dan pasukannya dalam bergerilya. Tidak sedikit harta yang dia keluarkan demi perjuangan. Tanpa ada kesadaran yang sangat tinggi, tentu akan berat menghabiskan hartanya untuk bertempur melawan penjajah.

Baca Juga  Koalisi Baru: PAN dan Partai Buruh Bersama Enam Partai Non Parlemen di Pilkada Bekasi 2024

Pejuang seperti Hasyim Achmad tentu sangat jarang ada di Bekasi. Angkat senjata dan juga sebagai pelaku usaha yang hasil dari usahanya itu digunakan untuk membiayai perang pasukannya. Dan pasukannya termasuk yang tidak sedikit, mereka tersebar di berbagai daerah. Dari Cikarang, Cileungsi, Karawang, bahkan hingga Indramayu. Cinta tanah air yang dilandasi nilai-nilai religiusitas terpatri di dadanya dan menjadi landasan dalam berjuang. Baik berjuang di medan perang, dunia politik, maupun dunia bisnis.

Penghargaan Dari Pemerintah

Atas jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan RI, Hasyim Achmad diberikan Tanda Penghargaan dari Dewan Harian Daerah “Angkatan 45” Provinsi Jawa Barat pada 17 Agustus 1992 yang ditandatangani oleh H.R. Moh. Yogie SM selaku Ketua Umum. Pemberian penghargaan berupa Penganugerahan Pemancangan Bambu Runcing di Pusaranya sebagai Exponen Perjuangan 45. Untuk bisa melakukan Pemancangan Bambu Runcing Berbendera Merah Putih di atas pusara tentu tidaklah mudah dan asal pancang saja. Ada sejumlah dokumen yang terverifikasi dan tervalidasi bahwa yang bersangkutan terbukti memang seorang pejuang dari angkatan 45.

Hasyim Achmad tutup usia pada April 1978 (58 tahun) akibat sakit. Dimakamkan di pemakaman keluarga di Kecamatan Cikarang Barat.

*EK*

Redaksi

POPULER

TERBARU

dprd single

© 2024 BEKASIVOICE.COM

pop up2025