Aboy Maulana ” Pilar Kebaikan Sejati ” Rame Ing Gawe, Sepi Ing Pamrih
BEKASIVOICE.COM | Aboy Maulana
Sejatinya, berbuat baik adalah naluri dasar manusia. Lebih dari sekadar tindakan, kebaikan adalah esensi keberadaan kita, yang membuat kita benar-benar “hidup.” Bayangkan, manusia diciptakan dalam bentuk terbaik (ahsana taqwiim) dan sebagai khalifah di muka bumi. Bukankah itu berarti kita punya tanggung jawab besar untuk menyebarkan kebaikan?
Setiap dari kita memiliki potensi untuk berbuat baik, dalam berbagai bentuk. Kebaikan itu seperti cahaya yang tidak hanya menerangi diri pelakunya, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Ia menular, memicu lingkaran kebaikan yang tak terhingga.
Namun, kebaikan yang hakiki adalah kebaikan yang dilandasi keikhlasan. Ini bukan tentang balasan, bukan tentang pujian, apalagi sanjungan. Keikhlasan berarti berbuat baik semata-mata karena dorongan jiwa, sebagai hamba Allah SWT, dan sebagai sesama makhluk-Nya. Hanya mengharap ridha dan pahala dari-Nya. Ingat firman Allah SWT dalam QS. al-Insan[7]:9, “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.”
Maka, sudah semestinya kita berbuat baik tanpa pamrih. Tanpa mengharapkan imbalan atau balasan jasa. Orang-orang yang berbuat baik dengan ikhlas inilah panutan sejati. Mereka adalah sosok yang patut kita ikuti. Seperti petunjuk dalam QS Yasin[36]:21, “Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Memilih untuk berbuat baik adalah pilihan hidup yang paling tepat. Dan ketika kebaikan itu dilakukan tanpa pamrih, terpancarlah kemuliaan diri yang mencerminkan kesadaran tulus dan ikhlas. Pelaku kebaikan sejati adalah mereka yang total, mengerahkan segenap kemampuan, dan berbuat optimal. Motifnya murni, hanya untuk kebaikan diri dan orang lain, serta meraih ridha Ilahi.
Percayalah, orang-orang yang berbuat baik tanpa pamrih menemukan kebahagiaan dan kebebasan yang luar biasa. Mereka terlepas dari segala beban ikatan, entah itu ukuran baju kelompok, warna bendera golongan, atau afiliasi partai. Mereka bebas berbuat baik kepada siapa saja, tanpa membeda-bedakan, tanpa memberikan kekhususan. Kebaikan mereka tak terikat oleh hingar-bingar media atau sorotan publik. Militansi mereka hebat, tak kenal lelah atau bosan. Fokus mereka hanya satu: memberikan yang terbaik bagi sesama, tanpa ada niat terselubung untuk dihargai, mencari popularitas, pencitraan, apalagi menaikkan elektabilitas. Bukankah Rasulullah SAW sudah mengingatkan, “Orang yang memamerkan perbuatan baiknya, maka pada hari kiamat Allah akan memamerkan kepada makhluk-Nya dengan mengejek dan mengecilkannya.” (HR Ahmad).
Membangun Negeri dengan “Sepi Ing Pamrih”
Di negeri kita yang sedang giat membangun ini, dengan segala potensi alam dan manusia yang luar biasa, kita sangat membutuhkan pribadi-pribadi yang berbuat baik tanpa pamrih. Kita butuh mereka yang tak mengharap balasan jasa, tak mengejar penghargaan atau pengakuan media, apalagi pengakuan politis untuk cari nama atau keuntungan sesaat.
Sudah saatnya kita semua membangun diri dengan berbuat kebaikan tanpa pamrih. Jika merasa belum mampu menjadi pelopor kebaikan, cukuplah kita mengikuti jejak mereka yang telah lebih dulu meneladani falsafah “rame ing gawe, sepi ing pamrih.” Mereka yang sibuk berkarya, namun rendah hati tanpa mengharap imbalan.
Wallahu ‘Alam
( Red )
